Garam Di Gunung

Jika selama ini saat kita berbicara tentang garam adalah Laut, maka anggapan itu akan terbantahkan ketika kita menginjakkan kaki di wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara.
Di wilayah yang berbatasan langsung dengan Negara Sabah dan Serawak-Malaysia dan Brunei Darusalam, ini produksi garam bukan berasal dari laut melainkan dari gunung. Alhasil, apabila di daerah lain terjadi kelangkaan garam, maka hal itu tak akan terjadi di daerah ini.
Belum ada sumber pasti, kapan pertama kali garam yang diolah dari mata air ini dibuat dan dikonsumsi.
Catatan etno-historis menyebut garam merupakan salah satu komoditas yang paling berharga serta mampu diperdagangkan dari wilayah ini. Garam merupakan sebuah produk yang sangat murah di pedalaman, dan pada zaman dahulu satu balok garam dapat ditukarkan dengan pedang logam tradisional (parang) di apo kayan.
Terlepas dari kapan pertama kali diproduksi, yang pasti saat ini garam gunung dari Krayan ini sangat digemari bukan hanya oleh masyarakat setempat, tapi juga jadi pelengkap makanan favorit di Malaysia dan Brunei Darusalam.
Di daratan tinggi Krayan, yang juga terkenal sebagai produsen beras organik tersebut, saat ini ada 33 mata air garam. Namun baru dua mata air yang diolah oleh masyarakat di desa Long Midang, Pa, Betung, Pa Kebuan, dan Long Umung, menjadi garam gunung atau disebut “tucu” dalam bahasa lokal.
Menurut Ansi Silvisly, mahasisiwa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Jogjakarta, garam gunung berasal dari air yang memiliki salinitas tinggi yang mengalir dari dalam tanah. Air tersebut terdapat di dalam tanah selama jutaan tahun yang lalu ketika dataran tinggi di sana masih ditutupi oleh laut.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat setempat telah mampu mengidentifikasi mata air garam yang dapat dikonsumsi oleh manusia (main) dan mata air garam yang dikonsumsi oleh satwa liar (rupan).
Proses produksi garam terjadi sepanjang tahun, namun menjadi lebih intensif seiring dengan satu periode siklus penanaman padi.
Masyarakat Krayan secara bergiliran mengolah garam, menghabiskan dua hingga tiga minggu di lokasi produksi pada suatu waktu jika lokasinya cukup jauh dari desa tempat mereka tinggal. Perempuan memiliki peranan penting dalam proses produksi tersebut.
Metode pengolahan garam gunung di Krayan sepenuhnya menggunakan metode tradisional dan dikembangkan secara lokal. Satu-satunya teknologi baru adalah penggunaan barel logam untuk memasaknya dalam jumlah yang lebih besar dan dapat membuat garam dalam waktu yang lebih singkat.
Selanjutnya, garam dikemas dengan cara memanaskan garam yang sudah dimasukkan ke dalam bambu di atas tungku api dan kemudian membungkusnya menggunakan daun. Biasanya garam disimpan dalam tumpukan kayu bakar di atas perapian di dapur. Dengan cara ini balok-balok garam akan tetap keras dan kering, serta dapat digunakan selama bertahun-tahun.
Rasa dari garam gunung tak jauh berbeda dengan garam dari air laut. Namun ciri khas tersendiri menjadikan garam Krayan begitu mudah masuk ke pasar negara tetangga (Sabah-Serawak dan Brunei).
Sayangnya, garam gunung yang mempunyai nilai warisan nusantara tersebut hingga saat ini masih dijual dengan harga yang sangat murah.

" Pepatah mengatakan garam dilaut dan asam digunung"


Komentar